"Aku ingin menjadi seorang guru."
Kalimat itulah yang selalu kuucap ketika ditanya apa cita-citaku. Aku begitu kagum pada sosok seorang guru. Figur yang tidak hanya mampu mengajar namun juga mendidik. Tidak hanya mengedepankan intelektual namun juga karakter. Itulah sosok guru yang aku idam-idamkan.
Dan sekarang, gadis berusia 18 tahun ini sudah menjadi salah satu mahasiswa di universitas negeri di Jawa Tengah tepatnya jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Entah mengapa guru sekolah dasar begitu menarik. Itu mengingatkanku pada sosok Pak Gito, salah satu guru favorit saat SD. Beliau dengan sabar dan tekun mengajari kami yang sedang bandel-bandelnya karena menuju masa peralihan alias kelas 6 SD. Beliau mampu membawa kami menuju prestasi yang gemilang. Peringkat 1 Ujian Nasional tingkat kabupaten sehingga mampu menaikkan derajat almamater. Dan Aku ingin seperti beliau. Menjadi guru SD di sekolah terpencil, menuntun muridku menuju cahaya kesuksesan.
Namun, segala sesuatu pasti ada proses yang harus dilalui. Seperti halnya kupu-kupu. Merasakan bagaimana dipandang jijik atau sebelah mata. Serupa peristiwa saat _booming_ pengumuman SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).
"Pantes lah lolos SBM, ambilnya PGSD."
"Kenapa ambil PGSD? Kan susah. Harus ngarya dulu. Gajinya kecil. Kenapa nggak ambil akuntansi aja?"
"Lah, ngapain lanjut kuliah. Toh, ujung-ujungnya juga nyari kerja. Yang sarjana juga banyak tuh yang jadi pengangguran."
Kalimat-kalimat yang cukup membuat kuping miris dan hati teriris. Apalagi masalah profesi. Bukankah tidak ada yang salah dari setiap profesi? Karena menurutku, yang salah hanyalah pandangan kita yang mengecam salah. Tidak ada yang terbaik dari profesi apapun. Karena setiap profesi ada keunggulan di bidangnya masing-masing. Jika semua ingin menjadi guru, maka siapa yang akan mengobati orang sakit? Jika semua ingin menjadi dokter, maka siapa yang akan menghitung aktiva dan pasiva perusahaan? Kesuksesan seseorang tidak diukur dari jenis profesinya melainkan bagaimana pengabdian seseorang pada profesi yang dijalaninya. Jadi, berhentilah berpikir sempit karena dunia itu luas. Dan Aku tetap pada pendirian untuk melanjutkan cita-cita apalagi dengan bantuan bidikmisi dari pemerintah. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang Aku dustakan? Biarlah mereka berkicau sesuka ria. Karena Aku percaya, segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari skenario yang telah dirancang oleh-Nya. Dan Allah Maha Mengatahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Rasa jenuh, menghindar dari semua beban, dan ingin menghentikan waktu selalu ada dalam siklus kehidupan. Begitu pula yang Aku rasakan. Sudah tiga bulan kuliah kujalani. Rasanya ini bukan 'aku'. Gadis yang suka akan kebebasan dan lebih suka membaca novel ketimbang buku pelajaran. Bahkan meski ada dana bidikmisi rasanya masih saja merepotkan orang tua. Hingga pemikiran ingin bekerja sering muncul dalam benak. Namun, seperti ulat dalam kepompong, Aku harus bertahan meski sempit dan mengikat agar bisa menjadi kupu-kupu yang cantik dan siap mengarungi persoalan pelik dalam hidup yang sesungguhnya.
Apalagi jika mengingat perjuangan keluarga yang begitu besar. Pada masa di mana Aku bekerja di salah satu dealer motor terkenal akibat kurang percaya diri dengan hasil tes SBMPTN dan sebagai anak semata wayang, satu-satunya harapan keluaraga, tidak mungkin bisa berdiam diri menunggu sesuatu yang tak pasti. Kemudian, pada saat pengumuman SBMPTN, yaitu tiga minggu Aku bekerja, rasa bahagia menyelusup saat nama Arin Widiarsih dinyatakan lolos SBMPTN. Kata syukur meluncur deras di bibir. Oleh karena itu, ada borang yang harus kuurus namun terkendala dengan status pegawai baru yang masih risih untuk mengambil cuti. Hingga keluargalah yang turun tangan mengurus segala tetek bengek yang tercantum dalam borang. Bagaimana Aku bisa berhenti jika bermalas-malasan saja Aku tak pantas? Kini, akan kujalani setiap inci proses mewujudkan cita-cita dalam balutan usaha dan do'a. Tidak peduli terhadap siapa dan apa saja yang mencoba menjatuhkan. I can do it.
Tegal, 20 April 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar